JALAN HIDUP 3 SEKOLAH

WARNING : sebelum membaca artikel aneh ini, jangan lupa membawa kamus akronim, karena dijamin akan banyak akronim yang akan membuat saudara bertanya tanya, kecuali yang memang mudah ditebak saja. Silakan cari di kamus sebosan bosannya, karena sebagian akronim ini hanya ada di perpustakaan otak saya hahahaha,,, ;D

Alur mundur, yakni bayangan 5 tahun lalu,

“Berapa NEM terendah tahun kemarin, Pak?” tanya saya kepada salah seorang satpam di salah satu SMA terbaik  di kerajaan Yogyakarta ini, sebut saja SMANSA (maklum, baru baru ini, baru bangga jadi rakyat kerajaan hehe). “kalau kemarin, NEM terendah 24,00, tertinggi 27 an”, jawab pak satpam. Saya yang lagi diantar oleh kakak sepupu laki laki kaget (ups, waktu itu saya belum paham aturan mahram dan non mahram). Wah tinggi juga ya, jaman segitu nilai rata rata 9 UNAS SMP dengan 3 mapel yakni bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa inggris sudah top banget, terus saya inget (past tense) waktu lampau di masa lampau, saat sedang membaca koran khas yogya perihal kelulusan UNAS SMP tahun 2004, nilai tertinggi dipegang oleh anak SMP 5 Yogyakarta dengan nilai 27an kalau gak salah. Jangan jangan yang ketrima di SMANSA itu.

Okey, sepeninggal saya dari SMANSA, saya bertekad untuk mendapatkan NEM di atas 24,00. saya harus bisa, bisa, dan bisa!!!. Padahal dari kelas satu, saya belum punya cita cita mau ke SMA mana, haha, malah baru mikir waktu kelas 3 SMP.

Singkat cerita, 6 bulan menjelang UNAS, saya bertekad untuk mengejar NEM maksimal, yakni di atas 24,00, itu target saya. Les luar, les dalam saya ikuti dengan enjoy. Alhamdulillah bisa diatur waktunya. Buku buku kumpulan UNAS, entah beli atau pinjem di perpusda Bantul, saya garap sampe pusing, huh bener bener perjuangan yang hebat. Gak ada lah hari tanpa garap soalnya pokoknya!. Sampai buku kumpulan UNAS SMP edisi 10 tahunan kalau gak salah, sempat jadi bahan cekcok dengan petugas perpus, masalahnya bukunya kan tebel bgt tuh, nah saya berniat buat minjem sampai UNAS selesai, otomatis, tiap minggu kan saya perpanjang pinjemnya, eh waktu mau saya perpanjang lagi, malah gak bisa lagi, karena sudah berkali kali. “Mbak, ini kan udah pinjem lama, ya kasihan yang lainya, mau pinjem“, “waduh, bentar lagi bu, soalnya ni buku belum selese semua, 2 hari lagi deh bu”, “gak bisa !!”. Akhirnya dengan menahan kecewa, terpaksa deh, kurelakan buku itu disimpen lagi sama petugasnya, ya buku kuning ajaib tuh, karena sampulnya kuning, buku yang memberiku banyak soal soal ajaib.

Saya bertekad tanggal 6-8 Juni 2005 nanti, saya harus lulus dan mendapat NEM tertinggi, syukur syukur bisa sampai 27,00 ke atas, pokoknya di atas 24,00 deh. Dan saya bertekad untuk diam jika ada yang meminta jawaban saya, tekad saya, bersih, dan jujur. Biarlah temen temen banyak yang sat set sat set, bahkan ada yang memberi jawaban dengan kode tangan ato apa, saya tetep gak mau jawab kalau ditanyain dan gak mau tanya tanya, walaupun ada beberapa soal yang agak sulit dijawab.  Saya pasrah deh ma Allah. Selama ujian gak henti hentinya baca doa yang dihapal, hanya satu tujuannya, biar saya lulus dengan NEM terbaik. Dan memang Alhamdulillah Man Jadda Wa jada, siapa yang bersungguh sungguh pasti menuai hasilnya, soal soal yang saya pelajari di buku kuning tebel itu, banyak yang keluar di UNAS, terutama soal Bahsa Indonesia, saya optimis dapat NEM tinggi waktu itu. Hanya satu yang sampai saat ini masih nyesel, waktu ditanya oleh salah seorang temen saya, salah satu soal matematika, saya terpaksa memberi jawaban yang bukan jawaban saya, biar jadi pelajaran ma tu anak, eh tak tahunya yang salah malah saya, dan temen saya itu bener, tentang lingkaran, saya keliru mengalikan antara jari jari dan diameter, padahal kalau itu bener, bisa dapat 9 pas.

Dag dig dug, menunggu ayah yang lagi ke sekolah mengambil hasil UNAS, o iya saya sekul di JETWAN. (muncul akronimya^^, salah satu skul yang indah di salah satu kelurahan pelosok JETIS, tapi nyenengin kok). Alhamdulillah Allah memberi saya ranking 3 UNAS di SMP, saya kaget, alhamdulillah lagi sesuai target,yakni 26,34, sungguh bahagianya waktu itu. Yang rangking 1 dan 2 dapat nilai 27an semua, ya tidak apa apalah, sudah berusaha maksimal.

Pendaftaran SMA, pokoknya saya nekad ke kota apapun yang terjadi, memang, ortu saya ingin saya daftar di SABA aja, karena terkait NEM juga, ternyata sungguh di luar dugaan, mulai tahun 2005, NEM SMP melonjak drastic, gilaaaaa,, nilai 28, 29, 30 banyak sekaliiiii, haduh sungguh beda dengan tahun 2004, minderr pasti….nilai matematika 10 banyak banget.. Saya masih menghibur diri, dengan piagam prestasi yang pernah diberikan oleh Allah waktu SMP bisa menambah NEM saya menjadi 27,10, tapi hanya di wilayah Bantul, gak bisa di Jogja. Dan SABA memang sekolah paling favorit dan terbaik di Bantul, waktu itu ranking 4 kelulusan se DIY. Tapi entah kenapa saya kurang berminat, hehe, haduh, ego saya terlalu tinggi waktu itu. Saya bertekad daftar SMANSA, waktu itu sudah pakai system RTO (real time online) jadi kita daftar di salah satu SMA yang dimaksud, lalu memilih 3 pilihan sekolah, berdasarkan NEM, kalau tidak diterima di pil 1, bisa diterima di pil 2 dst. Sepertinya memang bukan di SMANSA nasib saya, tapi dilempar di SMOVEN( haha pa lagi ni). sudah ranking ratusan, ya sudah lah, sudah daftar ulang pula. Di sisi lain saya diminta daftar STENKER, palagi ni, salah satu SMK di jogja, yang katanya bisa langsung kerja. Karena nasehat ortu, bisa langsung kerja, gak harus kuliah, saya turuti aja, saya gak sempet istikharah waktu itu. Tapi pol pole aku juga kuliah juga hiks, sayangnya dari STENKER sulit untuk nembus PTN. Nasib nasib, seharusnya seneng, tapi malah saya gak seneng diterima STENKER, aneh, padahal banyak juga yang yang daftar, 400an, dengan kuota 105. Soalnya saya sudah suka diterima di SMOVEN, tapi gara gara lolos tes di STENKER malah, ibu meminta untuk skul di situ. Padahal waktu itu, saya cuma coba coba aja garap tesnya. Tapi demi ibu, saya berusaha menyenangkan ortu dengan skul di STENKERmeskipun dengan setengah hati.

Selama skul di situ, setahun pertama stress berat, pusinggg,, merasa sia sia aja, apalagi pas gempa 2006 tuh, saya putus asa, pengen pindah aja sekolah. Saya mengejar NEM tinggi, tapi sepertinya percuma di STENKER, coz NEM gak ngaruh, haduhh BETE..nyesel saya kenapa dulu gak di SABA atau SMOVEN saja, jujur kalau di SMOVEN, saya ditakut takuti kalau di sana angker, hah kayak anak kecil aja!!. Ya pelampiasan saya Cuma di RUMAH IMAN, saya nyebutnya , berupa lingkaran kecil, yang mendekatkan dan memahamkan saya tentang islam. Masih blank awal awal, dan belum berjilbab, hingga hidayah datang sewaktu kelas 2, itupun masih bongkar pasang dan masih kecil. Saya merasa punya keluarga di RUMAH itu, ya dikit dikit saya kuat, dan alhamdulillah meski awalnya saya gak suka di STENKER, alhamdulillah bisa lulus juga meski pelajarannya bejibun,. Allah ngasih begitu banyak kenikmatan, alhamdulillah dari SD, nilai rata rata UNAS, 8 terus. Itu sudah menjadi hadiah terindah, meski saya sering lalai. Allah akan tetap mencintai hambaNya, selama hamba itu masih mau berserah diri sama Dia, apapun dosanya, tapi digarisbawahi, apapun dosanya dan taubat gak ngulangi lagi, itu yang saya yakini.

Dan sekarang 5 tahun kemudian, tahun 2010 Allah memberi kejutan yang sangat indah, kita boleh merencanakan, namun rencanaNya yang lebih indah. Saya dipertemukan dengan anak anak SABA dan SMOVEN, melalui RUMAH IMAN yang sekarang naik tingkat menjadi ATMOSFER CINTA seperti kata ustad Salim. Di De Es, yang didominasi anak anak SABA, saya jadi geli, berarti kalau dulu saya jadi di SABA, pasti saya sudah minimal kenal dengan mereka, karena saya niatnya pengen masuk ROHIS di manapun SMAnya, hahahah, ternyata malah ketemu di sini melalui ATMOSFER CINTA. Juga di SMOVEN, mendapat amanah bina di sana, subhanallah, sekolah yang gak jadi saya masuki,, tambah geliii. Alhamdulillah saya bertemu dengan anak anak hebat, dan mewarnai kehidupan saya. Ya dan saya jadi belajar sesuatu, bahwa sekolah itu untuk mencari ilmu, dan bukan untuk semata mata mencari kerja, dan dari kerja itu untuk dakwah Islam, ternyata itu pekerjaan yang utama bagi manusia. Dan saya mendapatkan hal yang jauh lebih berharga, yakni adanya universitas kehidupan di 3 sekolah itu, yang membuat saya semakin sejuk dengan Islam. Dan islam yang menyatukan kami.

Dan setelah baca note dari salah seorang murid SABA, tentang perjuanganya menembus SABA, yang sekarang semakin sulit, jadi seperti ditegur oleh Allah, betapa Allah sudah memberi kemudahan dulu, namun karena manusia terkadang merasa kurang puas, akhirnya jadi nyesel sendiri. Semoga hal tersebut bisa memberikan hikmah, bahwa apapun yang Allah berikan, itu pasti yang terbai, dan kalau diberi pilihan, jangan pernah lupa konsultasikan sama Allah. Semoga dilemma tersebut juga tidak terjadi pada adek perempuan saya satu satunya yang sedang berjuang untuk UNAS 2011, karena cita citanya ingin di SABA atau SMOVEN juga, pokonya yang ada RUMAH IMAN  nya hehe, teruslah berjuang dek ^^ karena ternyata, kita sekolah di mana juga menentukan jalan hidup kita. mohon doanya juga temen temen^^

Thanks for :

Allah SWT, yang sangat memperhatikan, Maha Pemelihara, dan Pemberi, meski akhir akhir ini, sering kehilangan ghirah, tapi akn tetap kupertahankan cinta pada Mu

Ayah ibu : yang menyekolahkan di sekul terbaik, matur nuwun sangetttt love u all ^^

temen temen JETWAN : trimakasih teman, selama 3 tahun, kelas 3 c, udah mengajariku macam macam, semua karakter kalian sangat mengagumkan ^^, semangat sukses!!! ^^

SABA : hmmm, trimakasih telah menghasilkan alumni yang hebat, hingga bisa berkenalan dengan mereka, hebat deh ^^

SMOVEN : mbak Ida, dek Eva, Mbak Ardiani, calon kakak kelas dulu hehehe, tapi sekarang malah ketemu, ada Rusyda, Fitri, dll, adek adek yang baru

STENKER : awalnya tidak suka, tapi lama lama jadi suka, betapa kekeluargaan dan persahabatan kentel sekali di sana, dan memberiku ilmu yang berguna..

DS : kalau gak dapat amanah di DS, gak bakalan bisa nulis gini heheheheImage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s