PERMAINAN TRADISIONAL DAN LAGU ANAK ANAK YANG HAMPIR PUNAH

“dhek Asri, nggowo karet ora?”, Tanya teman saya dengan bahasa jawa ngokonya. “nggowo, ayo jolad jolid!!”, jawabku seraya mengajak teman teman untuk keluar kelas dan bermain lompat tali sembari menunggu bel tanda masuk berbunyi. Begitulah suasana halaman sekolah dasar terutama di desa desa pada era tahun 1990an. Anak anak dari kelas 1 sampai kelas 6 SD asyik bermain mainan tradisional. Permainan yang dimainkan biasanya mempunyai “musim”. Misalnya ada musim lompat tali, musim benthik, musim cok cik, dan musim musim permainan lainnya. Artinya, ketika musim permainan tertentu, bisa dipastikan itulah permainan yang sebagian besar dimainkan oleh teman teman saya di SD, begitu juga di SD lain terutama di kampung.

Meski saya jarang memainkan permainan lompat tali yang biasa dimainkan anak perempuan, karena terlalu ribet peraturannya, pake “dong dongan” gitu, ada dhong siji, dhong loro, dhong telu, dst, dan setiap “dhong” itu, berbeda beda loncatnya, ada yang jongkok, berdiri, methenteng, dll, apalagi kalau di tengah permainan, diganggu sama anak laki laki, makanya saya kurang begitu suka permainan yang terlalu banyak aturan seperti lompat tali, yeye, dan kasti. Karena apa?akan menimbulkan perpecahan atau kemarahan ala anak anak di masa itu jika diketahui salah seorang anak melakukan kecurangan atau kesalahan hahahaha, sebenernya sih biasa J. Saya pribadi lebih menyukai permainan yang peraturannya sederhana, seperti patung patungan atau oeaeo stop bahasa planetnya (kejar kejaran sambil berusaha memegang badan anak yang dikejar, jika terpegang, maka jadi patung hahahaha), ingkling, egrang (INI, KARENA KEPINGIN 3 KAKAK SEPUPU SAYA YANG SEMUANYA LAKI LAKI), perang perangan ala Ksatria Baja Hitam, mobil mobilan, pasaran, ular naga, picekan (PERMAINAN MENEBAK WAJAH DENGAN MERABA _RED) cok cik, bekelan, bas basan, pethak umpet, gobag sodhor, benthik (permainan menggunakan 2 batang kayu panjang dan pendek), layangan, dll. Terutama cok cik, permainan yang menggunakan lima koin uang kemudian dilempartangkap dengan punggung tangan, saya sempat menjadi “raja” nya hehe. Sementara kasti??berbanding terbalik…saya lebih suka “menchok” deh, khawatir di “embat” oleh regu penjaga, karena larinya kurang kenceng, akibatnya regu saya selalu kalah deh :P,  Itu waktu SD, kalau SMP, saya sudah lumayan kastinya, lumayan bisa lari cepet :P,  Kalau perang perangan, sepertinya bukan permainan tradisional ya.

ular naga panjangnya…..

bukan kepalang…..

menjalar jalar selalu kian kemari….

umpan yang lezat, itulah yang dicari….

ini dianya yang terbelakang….

hap!!!===========================>>diculik…….bisik bisik….milih jeruk apa apel???milih jeruk rasa apel :D…garing :P :P

sayangnya….beberapa kali ketika berangkat kuliah selalu lewat bangunan SD saya yang sekarang pindah ke gedung baru akibat gempa, jarang yang memainkan ularnaga tradisional itu, kecuali ular naga via game HP, hapenya pun blackberry,fiuhh…..hmm kemajuan zaman, ketika dulu, hape dianggap barang yang luar biasa, sekarang sangat biasa, ketika dulu, belajar kelompok dan bermain di sawah seraya makan tebu yang sudah “rembang” atau panen adalah suatu keharusan, sekarang belajar aja deh via cyber, chattingan, fban, selesai….ketika hape belum memasyarakat, banyak teman yang sekedar tanya PR rela bersepeda jauh jauh ke tempat temannya, inilah silaturahimnya.

apakah sosialisasi terhadap teman menjadi tergerus pada zaman ini?sehingga, silaturahim menjadi disepelekan??. padahal salah satu manfaat permainan tradisional di kalangan anak anak adalah membangun jiwa sosial mereka.

NAH FAKTA YANG TERJADI SEKARANG ADALAH!!

“SEJUMLAH permainan tradisional yang menjadi permainan anak-anak seperti gobak sodor, egrang, patil lele, kelereng, cublek-cublek suweng, bekel, dan lain sebagainya, kini terancam punah. Pasalnya, permaian tersebut kini kian sulit ditemui, baik di wilayah kota maupun kabupaten.

Koordinator LSM Gerbang Mataram, Bambang Purnama menyampaikan keprihatinannya soal permainan tradisional yang tidak lagi menjadi salah satu permainan anak-anak sekarang. Bahkan, keberadaannya pun terancam punah, tergerus oleh permainan yang serba modern.  “Permainan tradisonal di kota ini tak lagi bisa ditemukan di desa atau perkampungan terpencil sekalipun. Padahal Kabupaten Tegal sebagian besar wilayahnya adalah wilayah pedesaan,” kata Bambang Purnama selaku salah satu pemerhati dan penggiat budaya lokal.”

Trenyuh deh, setelah masuk era tahun 2000an. Bisa jadi, generasi yang akan datang (baca : anak cucu kita), hanya bisa mendengar cerita cerita orangtuanya terkait berbagai macam permainan tradisional yang tidak bisa dimainkannya lagi karena sudah tergerus oleh berbagai macam permainan modern >__

APA YANG AKAN KITA PIKIRKAN, JIKA TERNYATA???

JAKARTA, KOMPAS.com–Anak-anak Indonesia kini lebih mengenal permainan berbasis teknologi informasi seperti games dan sebagainya, padahal di setiap daerah memiliki kekayaan permainan tradisional luar biasa yang harus diselamatkan.

Kesadaran inilah yang membawa jajaran pengurus CISV Indonesia sebagai bagian dari organisasi yang berkiprah dalam pemahaman budaya antarbangsa menggelar acara tahunan dengan tema “Lets go Out and Play” di Jakarta, Minggu.

“Lets go Out and play tahun 2012 ini dilakukan dengan bekerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di pusat-pusat kota dan salah satunya telah kita selenggarakan di Sekolah Kanisius, Menteng Jakarta Pusat. Faktanya, ratusan anak-anak dan remaja sangat antusias belajar dan memainkan aneka jenis permainan tradisional,” ujar Dharmesti.

Wah kita gak boleh kalah donk dengan “mereka”??. Ironis kan, kalau …….

Disebutkan dalam hadits Muslim, diriwayatkan oleh Anas (RA), suatu hari si kecil Muhammad (SAW) sedang bermain bersama anak-anak sebayanya. Malaikat Jibril (AS) datang, membelah dada Muhammad (SAW) dan mengeluarkan hatinya.

Kira kira, Rasulullah di zaman 570an M tuh bermain apa sama anak anak sebayanya??apa iya bermain video game?play station?facebook? Astagfirullah…..Rasulullah ketika kecil, sudah menggembala kambing. Memang tidak disebutkan di sirah, permainan apa yang dilakukan Rasulullah ketika kecil, tetapi dapat kita simpulkan, bahwa Rasulullah bermain permainan tradisional kala itu. ^__^.

seiring kemunculan permainan modern, dimulai dari video game, berlanjut ke play station waktu itu, akhirnya permainan tradisional sedikit sedikit mulai banyak ditinggalkan.

Hingga berlanjutlah ke zaman sekarang, di kampung kampung terpencilpun, sudah menjamur warnet dan towe tower untuk sinyal HP, akibatnya apa??bayi baru lahir saja sudah dikenalkan internet, facebook, computer, dan video game.

Apa yang bisa kita lakukan??apalagi ditambah dengan lagu lagu anak anak zaman sekarang yang tidak sesuai dengan “umur”. Oke, saya masih sangat ingat, ketika dulu, ayah saya selalu membelikan kaset kaset lagu anak anak trio kwek kwek, Enno Lerian, si Komo, maissy. Sesuai umur kan?sementara sekarang??sepertinya sudah tidak ada lagi penyanyi penyanyi cilik yang nongkrong di tipi, artis artis yang saya sebutkan tadi sudah pada gedhe, (iyalah masak kecil terus >__, akibatnya apa??anak anak zaman sekarang dalam hal sikap dan pergaulan sudah “lebih gedhe” daripada umur sebenarnya.

Untuk itu, wajiblah bagi kita untuk melestarikan permainan tradisional dan lagu anak anak zaman dulu, untuk generasi ke depan, dengan apa??.

  • Yap di Nganjuk, Jawa Timur, sudah dimulai dengan menggelar festival permainan tradisional
  • olimpiade olahraga tradisional seperti di Unpad,
  • mempromosikan permainan tradisional atau lagu lagu anak kepada anak atau saudara saudara kita yang masih kecil. ^__^, jadi gak salah jika mempelajari lagi permainan tradisional untuk diajarkan kepada anak anak, sekalian untuk refreshing.
  •  Mengadakan lomba seni budaya dengan menyertakan permainan tradisional.
  • Bagi daerah sebagai tempat wisatawan, dapat digunakan untuk menyambut para wisata.
  • Mengajarkan permainan tradisional di pendidikan sekolah

SEMOGA BERMANFAAT BAGI GENERASI PENERUS ISLAM DAN INDONESIA!!!^__^MAIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s